Minggu, 27 Desember 2014 | 22:48:24
PERKEBUNAN
Diposting Oleh KPDE Kab. Batang Hari | 30 Januari 2013

A.   PERKEBUNAN

1. POTENSI DAN KEBIJAKAN BIDANG PERKEBUNAN BATANG   HARI

1.1. POTENSI

Posisi geografis Kabupaten Batang Hari yang terletak diantara 1015’ dan 202 LS dan antara 102030’ BT dan 104030’ BT.  Daerah ini beriklim tropis dengan tingkat elevasi sebagian besar dataran rendah, dengan ketinggian antara 11 s.d 100 meter dpl (92,67%). Sisanya antara 101 s.d 500 meter dpl.Letak geografis tersebut merupakan karunia tuhan yang sangat mendukung untuk pembangunan ekonomi kerakyatan, khususnya sektor perkebunan, baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar.

Bagi Kabupaten Batang Hari sektor perkebunan merupakan sektor paling dominan dan berperan besar dalam perekonomi daerah.Besarnya peran sektor perkebunan dilihat variabel ekonomi, yaitu kontribusinya terhadap PDRB, penyerapan tenaga kerja dan ketersediaan sumberdaya alam.Sektor perkebunan merupakan sektor yang tertinggi kontribusinya terhadap PDRB Batang Hari.  Pada tahun 2006 kontribusi sektorperkebunan terhadap PDRB atas dasar Harga Konstan sebesar 16,73%, tahun 2007 sebesar 16,83%, tahun 2008 sebesar 16,55% dan pada tahun 2009 tetap sebesar 16,55%.  Sekalipun adanya kecenderungan menurun, namun secara kuantitatif perkembangan sektor ini cukup signifikan.

Besarnya peranan sektor perkebunan terhadap perekonomian Batang Hari dapat pula dilihat dari “share”-nya terhadap penyerapan tenaga kerja yang masih sangat signifikan, yaitu sekitar 64,09% dari total rumah tangga masyarakat Batang Hari hidup sebagai petani pada sektor perkebunan.  Kondisi ini didukung oleh ketersediaan sumberdaya alam di sektor perkebunan.Dari luas wilayah 518.035 Ha, memiliki potensi bidang perkebunan sebesar ± 336.722 ha atau ± 65 % terutama untuk komoditi karet dan kelapa sawit.

Mengacu kepada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kabupaten Batang Hari, bahwa salah satu misi yang hendak diemban pemerintah Kabupaten Batang Hari dalam lima tahun ke depan (2011-2016) adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang masih sangat khas, yang diwarnai oleh masyarakat pertanian, terutama perkebunan.  Meskipun memiliki trend yang cendrung menurun, mayoritas masyarakat Kabupaten Batang Hari masih hidup dari sektor perkebunan.  Pada tahun 2010, sekitar 64,09 persen dari total rumah tangga masyarakat Kabupaten Batang Hari yang hidup sebagai petani perkebunan.  Besarnya persentase jumlah penduduk Kabupaten Batang Hari yang masih hidup dari sektor perkebunan menunjukkan bahwa sektor ini masih merupakan sektor sentral dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Disamping itu kontribusi sektor perkebunan yang masih cukup besar terhadap PDRB daerah juga merupakan alasan yang kuat untuk menjadikan revitalisasi perkebunan sebagai salah satu prioritas pembangunan dalam rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Batang Hari.

Revitalisasi perkebunan pada hakekatnya tidak hanya semata meningkatkan kontribusi sektor perkebunan terhadap perolehan PDRB, tapi lebih dari pada itu melalui prioritas pembangunan tersebut, akan tercipta lapangan pekerjaan yang lebih besar sehingga tingkat pengangguran dapat ditekan, jumlah keluarga miskin dapat dikurangi dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan.  Pada gilirannya, ekonomi Kabupaten Batang Hari yang berbasis kerakyatan dapat terwujudkan.

Sektor perkebunan di Kabupaten Batang Hari diwarnai dengan usaha perkebunan dua komoditas unggulan karet dan kelapa sawit.   Pada akhir tahun 2010 tercatat luas tanaman karet di Kabupaten Batang Hari 111.619 Ha dengan produktivitas 830 kg/Ha/tahun.  Dari luas tanaman 111.619 Ha, yang terdiri dari tanaman muda / belum menghasilkan seluas 21.299 Ha (19,08%). tanaman menghasilkan 75.347 Ha (67,50%) dan tanaman karet tua/ rusak 14.973 Ha (13.41%).

Sedangkan komiditi kelapa sawit pada akhir tahun 2010 angka sementara tercatat seluas 66.674,7 Ha dengan produktivitas 3.307 kg CPO/ha/tahun yang terdiri dari yang terdiri dari tanaman muda / belum menghasilkan seluas 9.571,2 Ha (14,32%).tanaman menghasilkan 53.615,5 Ha (80,41%) dan tanaman tua/ rusak 3.488 Ha (5,23%).

Dari luas 66.674,7 Ha tersebut meliputi perkebunan rakyat 32.003 Ha (47,9%), Perkebunan BUMN/PTP 2.225 Ha (3,35%), dan Perkebunan Besar Swasta Nasional (PBSN) seluas 32.435,1 Ha (48,6%).

Secara umum masalah pokok yang dihadapi pada sektor perkebunan adalah rendahnya produksi dan produktivitas serta mutu produksi.Hal ini diantaranya disebabkan karena luasnya tanaman tua atau rusak terutama untuk komoditi karet dan rendahnya mutu bibit yang digunakan dan mutu produk.Selain itu masih banyak potensi perkebunan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Produktivitas yang rendah disertai oleh penguasaan teknik produksi yang kurang memadai, distribusi pemasaran yang kurang baik menyebabkan posisi tawar petani karet menjadi lemah.Pada gilirannya pendapatan petani dari usaha perkebunan karet rakyat menjadi sangat rendah.  Dengan harapan akan dapat memperoleh pendapatan yang lebih baik, sejumlah lahan perkebunan karet tua dewasa ini telah pula dialihfungsikan menjadi perkebunan kelapa sawit.

1.2 VISI DAN MISI

Visi Bidang Perkebunan Kabupaten Batang Hari “Terwujudnya Sumberdaya Kebun secara Lestari untuk masyarakat Batang Hari yang Maju, Adil dan Sejahtera berdasarkan Ketaqwaan”. Visi tersebut menggandung makna Terwujudnya pengembangan perkebunan dalam suatu penataan wilayah dengan memperhatikan kelestarian alam melalui pengintegrasian perencanaan kegiatan, produksi, pengolahan, distribusi, kegiatan off farm and on farm dalam suatu manajemen berdasarkan azas kekeluargaan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat/petani, secara berkeadilan menjamin penetapan usaha yang harmonis dan berkesinambungan berlandaskan ketaqwaan.  Misi di bidang perkebunan Kabupaten Batang Hari adalah sebagai berikut :

 

  1. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya kebun secara lestari.
  2. Meningkatkan produktifitas dan efisiensi usaha perkebunan yang berorientasi kepada agribisnis.
  3. Meningkatkan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat/petani dan pembangunan perkebunan yang berkeadilan.
  4. Menciptakan kondisi yang menjamin peluang berusaha bagi lembaga masyakarat untuk mengembangkan diri di sub sektor perkebunan.
  5. Optimalisasi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, yang ramah lingkungan dalam proses produksi, pengolahan dan distribusi.
  6. Percepatan penerapan teknologi dalam bidang teknis, ekonomi dan manajemen melalui peningkatan kemampuan sumberdaya manusia yang berlandaskan ketaqwaan.

1.3. TUJUAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN BIDANG PERKEBUNAN

Tujuan yang diinginkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Batang Hari dalam kaitannya dengan visi dan misi bidang perkebunan di atas adalah :

  1. Meningkatkan pemanfaatan potensi lahan perkebunan untuk mengentaskan kemiskinan, menciptakan lapangan kerja dan peningkatan pertumbuhan ekonomi.
  2. Meningkatkan produksi dan produktifitas komoditi perkebunan.
  3. Meningkatkan mutu produk perkebunan.
  4. Meningkatkan ketersediaan bibit perkebunan secara lokal dan berkualitas.
  5. Meningkatkan pendapatan petani perkebunan melalui peningkatan mutu produk perkebunan, peluang pasar, kemandirian petani dalam pemasaran produk.
  6. Meningkatkan peluang investasi sub sektor perkebunan.

Mengacu kepada visi dan misi di atas, maka sasaran yang ingin dicapai oleh Dinas Perkebunan Kabupaten Batang Hari adalah :

  1. Pemanfaatan potensi Perkebunan menjadi penggerak perekonomian.
  2. Meningkatnya produksi dan produktifitas komoditi Perkebunan.
  3. Meningkatkan ketersediaan bibit komoditi perkebunan secara lokal.
  4. Terciptanya bidang Agrobisnis komoditi perkebunan yang berdaya saing.
  5. Meningkatkan peran (posisi tawar) petani dalam sistem tata niaga produk perkebunan.
  6. Meningkatkan keterlibatan swasta pada sub sektor perkebunan.

Kebijakan Pemerintah Kabupaten Batang Hari pada bidang perkebunan meliputi sebagai berikut :

  1. Revitalisasi perkebunan.
  2. Replanting karet tua.
  3. Perluasan tanaman karet dan kelapa sawit.
  4. Peningkatan produksi dan produktifitas karet rakyat.
  5. Peningkatan produksi dan produktifitas kelapa sawit.
  6. Peningkatan penerapan teknologi perkebunan.
  7. Pengembangan pembibit perkebunan.
  8. Peningkatan mutu hasil produk karet.
  9. Peningkatan dan pemberdayaan kelembagaan petani perkebunan.

10. Peningkatan pelayanan terhadap investor sub sektor perkebunan.

 

2.   PELUANG INVESTASI BIDANG PERKEBUNAN BATANG  
       HARI

 Berpedoman kepada ketersediaan potensi sumberdaya alam, arah kebijakan daerah, daya dukung berinvestasi dan kecenderungan pasar komoditi perkebunan, maka setidaknya saat ini tersedia peluang investasi bidang perkebunan bagi pihak swasta di Kabupaten Batang Hari sebagai berikut :

  1. Pabrik Kelapa Sawit
  2. Industri Hilir Kelapa Sawit
  3. Pabrik pengolahan karet (crumb rubber)
  4. Pembibitan Karet dan Kelapa Sawit
  5. Pemanfaatan Kayu Karet Tua

2. 1 PELUANG INVESTASI PABRIK KELAPA SAWIT (PKS)

Pembangunan dan pengembang-an pabrik kelapa sawit (PKS) di Kabupaten Batang Hari dinilai sebagai investasi yang masih me-miliki peluang yang sangat besar.  Hal didukung oleh produksi kelapa sawit yang dari tahun ke tahun terus meningkat.

Pada akhir tahun 2010 tercatat luas kelapa sawit di Kabupaten Batang Hari seluas 66.593.7 Ha dengan produksi 177.882 ton CPO per tahun atau setara dengan 889.410 ton TBS setahun.Tentunya produksi ini cenderung meningkat sejalan dengan meningkatnya luas lahan.Ini berarti rata-rata setiap bulan dihasilkan kelapa sawit dari Batang Hari sebanyak 74.118 ton TBS, setara dengan 14.824 ton CPO.Atau produksi per hari sebanyak 2.471 ton TBS atau setara dengan 494.1 ton CPO.Jika kapasitas angkut satu buah mobil truk kelapa sawit rata-rata 8 ton, maka rata-rata per hari diangkut sekitar 309 truk TBS.

Sementara sampai saat ini di Batang Hari baru tersedia 6 (enam) Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yaitu PT. Asiatic Persada, PT. Inti Indosawit Subur dan PT.Dali Muda Perkasa, PT. Humusindo Makmur Sejati, PT. Kedaton dan PTP Nusantara IV dengan total kapasitas 235 ton TBS/jam.

 Tabel  Perusahan Pengolahan Kelapa Sawit di Kabupaten Batang Hari

Nama Perusahaan

Kapasitas

Ton/Jam

Lokasi

PT. Deli Muda Perkasa

30

Kec. Mersam
PT. Humusindo Makmur Sejati

15

Kec. Muara Tembesi
PT. Asiatic Persada

80

Kec. Bajubang
PT. Inti indo sawit subur

80

Kec. Maro Sebo Ilir
PT Kedaton

15

Kec.Batin XXIV
PTP Nusantara VI

15

Kec.Batin XXIV
Jumlah

235

                     -

 

Fakta di atas me-nunjukkan bahwa dari sisi ketersediaan bahan baku, maka masih sangat besar peluang untuk mem-bangun Pabrik Kela-pa Sawit di Kabupaten Batang Hari karena baru sekitar 35,54% dari total produksi TBS dapat diolah oleh yang pabrik yang ada, sisanya dibawa ke luar Batang Hari.

Investasi pihak swasta untuk membangun Pabrik Kelapa Sawit di Batang Hari tentunya akan didukung penuh oleh pemerintah daerah, karena selain dapat meningkatkan nilai tambah produk komoditi unggulan, menyerap tenaga kerja dalam rangka menekan tingkat pengangguran, kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing daerah.

Faktor Pendukung  :

 Selain jumlah dan kontinyuinitas ketersediaan bahan baku yang cenderung ke depan akan terus meningkat, investasi membangun Pabrik Kelapa Sawit di Kabupaten Batang Hari sangat berpeluang yang didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut :

Kemudahan proses perizinan.  Pemerintah Kabupaten Batang Hari telah membentuk Badan Pelayanan Terpadu Tatu Pintu (BPTSP)  sabagai salah satu dari implementasi dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007.  Hadirnya BPTSP sebagai salah satu bentuk komitmen pemerintah daerah  dalam upaya mempermudah proses administrasi bagi para investor dalam proses pengelolaan perizinan dimulai dari tahap permohonan sampai dengan terbitnya dokumen perizinan.

  1. Ketersediaan tenaga kerja yang mudah dan murah didapat di sekitar areal perkebunan kelapa sawit.
  2. Sarana infrastruktur yang relatif kondusif, baik transportasi darat maupun air.  Pada umumnya sudah tersedia jalan yang dapat dilalui kenderaan roda empat untuk mengangkut TBS dari kebun ke lokasi pabrik.
  3.  Letak wilayah Kabupaten Batang Hari yang relatif dekat dengan sarana pelabuhan untuk tujuan ekspor, baik pelabuhan Talang Duku maupun untuk jangka panjang ke Pelabuhan Samudra di Tanjung Jabung Timur.  Demikian juga jarak ke Pelabuhan Udara (± 68 KM dari pusat Ibu Kota Muara Bulian).
  4. Ketersediaan sarana perbankan, listrik, organisasi petani dan sarana telekomunikasi cukup tersedia untuk mendukung berinvestasi.

2.2.PELUANG INVESTASI INDUSTRI HILIR  KELAPA SAWIT

Kehadiran industri hilir kelapa sawit sudah lama menjadi cita-cita masyarakat dan Pemerintah Daerah Batang Hari.  Cita-cita ini cukup beralasan bila dilihat dari ketersediaan bahan baku.  Pada sisi lain berdirinya industri Hilir  di Kabupaten Batang Hari akan memberikan dampak yang luas bagi penyerapan tenaga kerja untuk mengatasi pengangguran, meningkatkan nilai tambah produk,   meningkatkan pendapatan masyarakat, dan sekaligus pendapatan daerah.  Pada aakhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Peluang investasi untuk membangun industri hilir kelapa sawit bagi investor di wilayah Kabupaten Batang Hari sangat terbuka lebar.  Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa pada akhir tahun 2010 luas kebun kelapa sawit di Kabupaten Batang Hari 66.593,7 Ha dengan produksi 889.410 ton TBS setahun atau setara dengan 177.882 ton CPO per tahun.Luas dan jumlah produksi di atas akan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya sejalan dengan semakin berkembangnya kebun kelapa sawit, baik yang  dibangun oleh perusahaan besar maupun secara swdaya oleh masyarakat.

Sementara sampai saat ini masih sedikitnya pihak swasta yang berinvestasi untuk industri hilir kelapa sawit di Batang Hari.

Faktor Pendukung  :

Sama halnya dengan faktor yang mendukung investasi membangun Pabrik Kelapa Sawit, pembangunan industri hilir kelapa sawit pun sangat besar peluangnya di Kabupaten Batang Hari.  Peluang ini didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Komitmen Pemerintah Daerah, baik pemerintah Kabupaten Batang Hari maupun Provinsi Jambi untuk mendorong hadirnya investor untuk membangun industri hilir kepala sawit.  Termasuk dalam konteks ini adalah komitmen kepala daerah baik Bupati Batang Hari maupun Gubernur Jambi.
  2. Komitmen Pemerintah Batang Hari dalam memberi kemudahan dalam  proses perizinan.  Dengan adanya Badan Pelayanan Terpadu Tatu Pintu (BPTSP)  Pemerintah Daerah berjanji akan member pelayanan untuk mempercepat proses perizinan bagi calon investor industri hilir kelapa sawit di wilayah Batang Hari..
  3. Ketersediaan tenaga kerja yang mudah dan murah didapat di sekitar areal perkebunan kelapa sawit.
  4. Sarana infrastruktur yang relatif kondusif, baik transportasi darat maupun air.  Pada umumnya sudah tersedia jalan yang dapat dilalui kenderaan roda empat untuk mengangkut TBS dari kebun ke lokasi pabrik, termasuk untuk transportasi produk industri hilirnya untuk tujuan pasar.
  5. Letak wilayah Kabupaten Batang Hari yang relatif dekat dengan sarana pelabuhan untuk tujuan ekspor, baik pelabuhan Talang Duku maupun untuk jangka panjang ke Pelabuhan Samudra di Tanjung Jabung Timur.  Demikian juga jarak ke Pelabuhan Udara (± 68 KM dari pusat Ibu Kota Muara Bulian).
  6. Sarana pebankan, listrik, dan sarana telekomunikasi cukup tersedia untuk mendukung berinvestasi.

 2.3.PELUANG INVESTASI INDUSTRI CRUMB RUBBER

Komoditi karet bagi masyarakat Batang Hari tidak hanya memiliki makna ekonomi, tapi juga mengandung makna sejarah dan budaya.Komoditi ini sudah menjadi bahagian dari kehidupan sebahagian besar masyarakat secara turun-menurun.

Sekalipun sebahagian besar penduduk menggan-tungkan hidupnya pada komoditi karet, namun dari aspek ekonomi komoditi ini belum memberi manfaat yang optimal, karena sebahagian besar yang dihasilkan dari Batang Hari dalam bentuk produk primer.Tentu saja nilai ekonominya relatif rendah.

Awal tahun 2010 luas karet rakyat di Kabupaten Batang Hari tercatat 111.619 Ha yang terdiri dari tanaman muda / belum menghasilkan seluas 21.299 Ha (19,0%), tanaman menghasilkan 75.347 Ha (67,5%) dan tanaman karet tua/ rusak 14.973 Ha (13,4%) dengan produksi 62.552 ton dengan tingkat produktivitas 830 ton/ Ha/ Tahun.  Ini berarti bahwa setiap bulan dari wilayah Kabupaten Batang Hari dihasilkan karet sekitar 5.213 ton atau setara dengan 173.75 ton per hari.

Jumlah produksi sebanyak ini tentunya patut dicermati oleh para investor untuk mendirikan pabrik crumb rubber di Batang Hari.Apalagi sampai saat ini baru terdapat satu perusahaan crumb rubber di Batang Hari yaitu PT. Aneka Bumi Pratama yang berlokasi di Desa Simpang Kubu Kandang Kecamatan Pemayung.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah daerah untuk meningkatkan nilai tambah produk primer bagi masyarakat petani karet, menyerap tenaga kerja dan mewujudkan produk unggulan lokal yang kompetitif, maka cukup beralasan bagi pemerintah daerah memberi peluang yang sebesar-besarnya bagi calon investor untuk membangun pabrik crumb rubber di wilayah Kabupaten Batang Hari.  Dari sisi ekonomi pun, usaha crumb rubber ini dinilai akan memberi keuntungan bagi investor serta berkelanjutan.

Faktor Pendukung  :

Selain jumlah dan kontinyuinitas ketersediaan bahan baku yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun, terdapat beberapa faktor yang mendukung investasi untuk membangun Pabrik Crumb Rubber di wilayah Kabupaten Batang Hari, sebagai berikut :

  1. Adanya komitmen dan kebijakan pemerintah Kabupaten Batang Hari untuk menciptakan bidang agrobisnis komoditi perkebunan yang berdaya saing, meningkatkan peran (posisi tawar) petani dalam sistem tata niaga produk perkebunan dan meningkatkan keterlibatan swasta pada sub sektor perkebunan.
  2. Kemudahan dalam proses perizinan dengan adanya kelembagaan Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BPTSP)  di Kabupaten Batang Hari.
  3. Dukungan ketersediaan tenaga kerja yang mudah dan murah didapat di setiap pelosok desa dalam Wilayah Kabupaten Batang Hari.
  4. Sarana infrastruktur yang relatif kondusif, baik transportasi darat maupun air.  Pada umumnya sudah tersedia jalan yang dapat dilalui kenderaan roda empat untuk pengangkutan Bahan Olah Karet (BOKAR).
  5. Adanya Pasar Lelang Karet sebagai sarana untuk stabilisasi harga Bokar.
  6. Letak wilayah Kabupaten Batang Hari yang relatif dekat dengan sarana pelabuhan untuk tujuan ekspor, baik pelabuhan Talang Duku maupun untuk jangka panjang ke Pelabuhan Samudra di Tanjung Jabung Timur.  Demikian juga jarak ke Pelabuhan Udara (± 68 KM dari pusat Ibu Kota Muara Bulian).
  7. Sarana perbankan, listrik, dan sarana telekomunikasi cukup tersedia untuk mendukung berinvestasi.

 3.4. PELUANG INVESTASI PEMBIBITAN KOMODITI PERKEBUNAN

Salah satu persoalan pokok usaha perkebunan di Kabupaten Batang Hari adalah terbatasnya penyediaan bibit perkebunan secara lokal, baik jumlah apalagi dari aspek mutu.Terutama untuk dua komoditi unggulan karet dan kelapa sawit.  Pada sisi lain masyarakat dihadapkan kepada rendahnya produktivitas (terutama karet) yang disebabkan karena luasnya tanaman tua atau rusak yang perlu diremajakan dan memerlukan bibit yang bermutu.

Pengadaan bibit karet gratis yang disalurkan ke petani oleh Pemerintah Kabupaten untuk program replanting karet tua dalam kurun waktu lima tahun terakhir hampir 100% bersumber dari luar Kabupaten Batang Hari.  Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan Batang Hari menghasilkan bibit karet yang sesuai kebutuhan baik jumlah maupun mutu.

Diperkirakan per tahun dibutuhkan bibit karet di Kabupaten Batang Hari sekitar 5.700.000 batang dan bibit kelapa sawit sekitar 1.000.000 batang dengan rincian sebagai berikut :

Uraian Karet (Btg) Kelapa Sawit(Btg)
Peremajaan

3.200.000

250.000

Perluasan

2.500.000

750.000

Jumlah

5.700.000

1.000.000

Sementara kemampuan produksi bibit dari para penangkar bibit lokal diperkirakan hanya mampu memenuhi sekitar 15% dari kebutuhan.

Saat ini terdapat satu investor yang ber-gerak dibidang pembibitan karet yaitu PT. Supin Raya seluas 26 Ha yang berlokasi Desa Kilangan Kecamatan Muara Bulian.Sedangkan untuk kelapa sawit sampai saat ini belum ada investor yang berinvestasi.

Dari fakta di atas memberi indikasi bahwa sangat besar peluang investasi untuk pengembangan pembibitan komoditi perkebunan, baik komoditi karet maupun kelapa sawit di Kabupaten Batang Hari.Secara ekonomis usaha ini menjanjikan keuntungan yang cukup besar dan didukung dengan peluang pasar yang terbuka sepanjang waktu.Demikian pula jika dilihat kondisi agroklimaks, ketersediaan lahan dan dukungan dari pemerintah daerah.

Faktor Pendukung  :

Beberapa faktor yang mendukung investasi pembibitan komoditi perkebunan di wilayah Kabupaten Batang Hari, sebagai berikut : 

  1. Adanya komitmen dan kebijakan pemerintah Kabupaten Batang Hari melalui Program Replanting Karet Tua, setiap tahun membutuhkan bibit karet untuk disalurkan kepada petani.
  2. Kondisi agroklimat secara tiknis sangat mendukung untuk usaha pembibitan.  Ditambah lagi dengan ketersediaan lahan yang masih sangat luas dan mudah didapat.
  3. Mayoritas masyarakat Kabupaten Batang Hari yang masih hidup dari sektor perkebunan terutama karet yang menjadi salah satu komoditi unggulan di Kabupaten Batang Hari.
  4. Peluang pasar yang terbuka sepan-jang waktu karena kebutuhan masyarakat untuk bibit karet relatif tinggi dengan keterbatasan kemam-puan para penangkar bibit lokal yang hanya mampu memenuhi ± 15% dari kebutuhan.
  5. Dukungan ketersediaan tenaga kerja yang mudah dan murah didapat di setiap pelosok desa dalam Wilayah Kabupaten Batang Hari.
  6. Sarana pebankan, listrik, dan sarana telekomunikasi cukup tersedia untuk mendukung berinvestasi.